SURABAYA – LAWKRITIS ID Peta politik menuju Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2029 memang masih jauh di depan mata. Namun, sejumlah peristiwa politik yang berlangsung di penghujung Agustus 2026 mulai memunculkan berbagai spekulasi dan pembacaan mengenai arah kontestasi politik Jawa Timur pada masa mendatang.
Dua kekuatan politik besar, PDI Perjuangan Jawa Timur dan Partai Demokrat Jawa Timur, dalam momentum yang berbeda, sama-sama memperlihatkan geliat konsolidasi serta arah penguatan kekuatan politik internal. Dari sinilah, berbagai kemungkinan mengenai konstelasi calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur mulai menjadi perbincangan menarik di tengah masyarakat.
Dinamika tersebut salah satunya mengemuka setelah Konsolidasi Internal PDI Perjuangan sekaligus penutupan turnamen sepak bola Soekarno Cup yang digelar di Hotel Vasa Surabaya pada 23–24 Agustus 2026 dan dihadiri langsung Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.
Dalam orasi politiknya, Megawati kembali menegaskan posisi Surabaya dan Jawa Timur sebagai “Dapur Nasionalisme”, sebuah wilayah yang memiliki rekam jejak kuat dalam sejarah perjuangan dan pemikiran Bung Karno.
Nuansa politik semakin menghangat ketika tokoh sentral PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menyuarakan pandangan bahwa sudah saatnya PDI Perjuangan memiliki figur Gubernur Jawa Timur sendiri. Seruan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa mesin politik PDI Perjuangan mulai melakukan pembacaan serius terhadap peluang dan kekuatan menjelang kontestasi politik berikutnya.
Di sisi lain, Partai Demokrat Jawa Timur juga menunjukkan konsolidasi kekuatan yang tidak kalah menarik. Dalam Musyawarah Daerah atau Musda ke-7 Partai Demokrat Jawa Timur yang berlangsung pada 27–29 Agustus 2026 di Hotel Novotel Samator Surabaya, Emil Elestianto Dardak kembali dipercaya secara aklamasi untuk memimpin Partai Demokrat Jawa Timur periode 2026–2031.
Terpilihnya kembali Emil Dardak memperkuat posisinya sebagai salah satu figur penting dalam percaturan politik Jawa Timur. Terlebih, dalam Musda tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turut menyampaikan doa dan harapan agar Emil Dardak kelak dapat menjadi pemimpin nomor satu di Jawa Timur.
Pernyataan tersebut mendapat perhatian tersendiri karena disampaikan di tengah forum konsolidasi besar Partai Demokrat Jawa Timur. Dukungan moral terhadap Emil juga datang dari sejumlah tokoh, termasuk KH Asep Saifuddin Chamim yang menyatakan kesiapan untuk berada di barisan utama dalam mendukung langkah politik Emil Dardak pada masa mendatang.
Dua momentum politik besar yang terjadi hampir bersamaan itu kemudian menjadi bahan pembacaan menarik bagi kalangan pengamat politik Jawa Timur.
Pakar politik Jawa Timur, Heru Satriyo, S.Ip, menilai geliat politik PDI Perjuangan dan Partai Demokrat Jawa Timur dapat menjadi indikator awal terbentuknya simpul-simpul kekuatan baru menuju Pilgub Jatim mendatang.
Menurut Heru, pembicaraan mengenai potensi calon Gubernur Jawa Timur dari PDI Perjuangan maupun Partai Demokrat merupakan sesuatu yang menarik untuk dicermati dalam perspektif politik praktis.
“Gambaran akan adanya calon Gubernur Jawa Timur dari PDI Perjuangan dan Partai Demokrat Jawa Timur menarik untuk diungkap dalam pola pandang pemikiran politik praktis. Ini bisa menjadi bagian dari pembacaan awal terhadap arah konstelasi politik menjelang Pilgub Jatim mendatang,” ujar Heru.
Lebih jauh, Heru memandang terdapat satu kemungkinan politik besar yang, meski masih sangat dini untuk dibicarakan, layak menjadi bahan diskusi publik, yakni terbentuknya kolaborasi antara dua partai besar tersebut.
Menurutnya, apabila PDI Perjuangan Jawa Timur dan Partai Demokrat Jawa Timur pada akhirnya memilih untuk menyatukan kekuatan dalam sebuah koalisi besar, maka konfigurasi politik Pilgub Jatim dapat berubah secara signifikan.
Heru bahkan menggambarkan kemungkinan tersebut sebagai sebuah “bingkai politik Mojopahit”, yakni simbol kekuatan besar yang lahir dari penyatuan energi politik dua kekuatan berbeda untuk membangun poros bersama.
Dalam skenario politik tersebut, Heru menyampaikan pandangannya bahwa Emil Dardak berpeluang diproyeksikan sebagai calon Gubernur Jawa Timur, sementara posisi calon Wakil Gubernur dapat diisi oleh kader potensial dari PDI Perjuangan Jawa Timur.
“Masih terlalu dini memang, tetapi sebagai masyarakat Jawa Timur, elok kiranya kalau saya berharap kekuatan dua partai besar, yaitu PDI Perjuangan Jawa Timur dan Partai Demokrat Jawa Timur, bisa menyatu dalam Pilgub Jatim mendatang. Emil Dardak sebagai calon Gubernur dan calon Wakil Gubernurnya diisi kader PDI Perjuangan Jawa Timur,” harap Heru.
Namun demikian, Heru menegaskan bahwa seluruh kemungkinan tersebut masih berada dalam ruang pembacaan dan dinamika politik yang terus berkembang. Peluang kedua partai untuk berjalan dengan kekuatan dan calon masing-masing juga tetap terbuka lebar.
Apabila PDI Perjuangan dan Partai Demokrat Jawa Timur memilih mengusung pasangan calon sendiri-sendiri, maka kontestasi Pilgub Jatim berpotensi berlangsung semakin terbuka dan kompetitif. Berbagai partai politik lain pun diyakini akan memiliki kalkulasi serta strategi tersendiri dalam menentukan arah koalisi dan figur yang akan diusung.
Bagi Heru Satriyo, stabilitas politik dan suasana demokrasi yang kondusif tetap harus menjadi kepentingan utama. Sebagai salah satu provinsi dengan kekuatan politik, ekonomi, sosial, dan jumlah pemilih yang sangat besar, Jawa Timur selama ini selalu memiliki posisi strategis sebagai barometer politik nasional.
Karena itu, menurutnya, euforia demokrasi menuju Pilgub Jatim mendatang harus dibangun dengan semangat persatuan, kedewasaan politik, dan penghormatan terhadap proses demokrasi.
“Jawa Timur harus tetap adem ayem. Perbedaan pilihan politik adalah bagian dari demokrasi, tetapi jangan sampai dinamika politik justru menimbulkan gesekan yang tidak produktif di tingkat akar rumput,” tegasnya.
Heru juga berharap seluruh kekuatan politik di Jawa Timur dapat membangun komunikasi secara terbuka dan mengedepankan kepentingan masyarakat. Baginya, kemungkinan koalisi antara PDI Perjuangan dan Partai Demokrat Jawa Timur bukan sesuatu yang mustahil dalam politik, karena dinamika koalisi selalu berkembang mengikuti kepentingan, kesamaan visi, dan kebutuhan membangun pemerintahan yang kuat.
Pada akhirnya, pertanyaan besar menuju Pilgub Jawa Timur 2029 akan semakin menarik untuk dijawab seiring berjalannya waktu: akankah PDI Perjuangan dan Partai Demokrat memilih bertarung sebagai rival, atau justru mengejutkan publik dengan membangun poros politik besar yang menyatukan Emil Dardak dengan kader potensial dari PDI Perjuangan?
Jawabannya tentu masih tersimpan dalam dinamika politik yang panjang. Namun satu hal mulai terlihat, mesin politik di Jawa Timur perlahan telah dipanaskan, simpul-simpul kekuatan mulai membaca peluang, dan nama-nama besar mulai diperhitungkan.
Pilgub Jatim memang masih jauh, tetapi aroma pertarungan politiknya mulai terasa dari sekarang (Red).






