MOJOKERTO —LAWKRITIS ID Pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemasyarakatan di Jawa Timur kembali diperkuat. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur, Kusnali, turun langsung melakukan Bimbingan, Monitoring, dan Pengawasan (Bintorwasdal) di Lapas Kelas IIB Mojokerto, Selasa (8/9).
Kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi agenda monitoring administratif. Berbagai lini pelayanan, pembinaan, ketahanan pangan hingga keamanan blok hunian diperiksa secara langsung untuk memastikan pelaksanaan tugas dan fungsi Pemasyarakatan berjalan sesuai ketentuan dan Standar Operasional Prosedur (SOP).
Sejak berada di Lapas Kelas IIB Mojokerto, perhatian Kusnali diarahkan pada sejumlah sektor yang bersentuhan langsung dengan kualitas pelayanan serta kehidupan warga binaan. Salah satunya adalah dapur.
Kualitas makanan menjadi bagian penting yang turut diperiksa. Kusnali melihat secara langsung kelayakan nasi, lauk-pauk dan sayuran yang disiapkan bagi warga binaan. Tidak hanya kualitas menu, kesesuaian bahan makanan dengan jumlah warga binaan juga menjadi bagian dari pengecekan.
Pengawasan terhadap dapur tersebut menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar warga binaan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan Pemasyarakatan. Pelayanan tidak cukup hanya berjalan secara administratif, tetapi harus dapat dipastikan pelaksanaannya di lapangan.
Dari dapur, Kusnali kemudian meninjau sektor ketahanan pangan. Peternakan bebek dan budidaya ikan lele melalui 42 biopond menjadi salah satu aktivitas produktif yang turut diperiksa.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan. Melalui aktivitas produktif, warga binaan mendapatkan ruang untuk mengembangkan keterampilan dan pengalaman kerja yang diharapkan dapat menjadi bekal ketika kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Pengawasan juga menyentuh sektor ekonomi produktif lainnya. Kusnali meninjau pengelolaan kantin serta produksi makanan ringan yang dilakukan warga binaan dan dipasarkan melalui koperasi.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana pembinaan kemandirian diarahkan agar warga binaan tidak hanya memperoleh keterampilan, tetapi juga memiliki pengalaman dalam menjalankan aktivitas produktif.
Bagi warga binaan yang terlibat dalam kegiatan produktif tersebut, diberikan premi sebesar Rp600.000 per bulan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Selanjutnya, Kusnali melihat langsung bengkel kerja. Di lokasi tersebut, ia memantau pelaksanaan pembinaan keterampilan dan kemandirian yang menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembinaan warga binaan.
Namun, pengawasan tidak berhenti pada pelayanan dan kegiatan produktif.
Aspek keamanan dan ketertiban menjadi perhatian serius dalam pelaksanaan Bintorwasdal. Kusnali melakukan kontrol langsung ke blok hunian untuk memastikan kondisi keamanan, ketertiban, kebersihan serta situasi warga binaan tetap aman dan kondusif.
Kontrol lapangan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh petugas bahwa potensi gangguan keamanan harus diantisipasi melalui kewaspadaan dan deteksi dini yang dilakukan secara konsisten.
Kusnali menekankan bahwa keamanan dan ketertiban bukan hanya menjadi tanggung jawab satu bagian, melainkan menjadi perhatian bersama seluruh jajaran.
“Keamanan dan ketertiban harus menjadi perhatian bersama. Laksanakan deteksi dini secara konsisten, jaga integritas dan disiplin dalam bertugas, serta pastikan seluruh program pembinaan dan pelayanan berjalan optimal sesuai SOP,” tegas Kusnali.
Pesan tersebut menjadi garis tegas dalam pelaksanaan tugas jajaran Lapas Kelas IIB Mojokerto. Profesionalitas petugas harus berjalan seiring dengan integritas, disiplin dan kekompakan.
Dalam rangkaian Bintorwasdal, Kusnali juga memberikan penguatan kepada jajaran Lapas Kelas IIB Mojokerto. Seluruh petugas didorong untuk terus menjaga integritas, meningkatkan kedisiplinan serta memperkuat soliditas dalam menjalankan tugas.
Penguatan tersebut menjadi penting karena keberhasilan penyelenggaraan Pemasyarakatan tidak hanya ditentukan oleh tersedianya program, tetapi juga oleh konsistensi petugas dalam menjalankan setiap tugas sesuai aturan dan SOP.
Melalui monitoring langsung, Kanwil Ditjenpas Jawa Timur berupaya memastikan berbagai program yang telah berjalan di satuan kerja benar-benar terlaksana secara optimal. Mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan, pembinaan keterampilan, kegiatan ketahanan pangan, hingga pengamanan blok hunian menjadi bagian dari satu rangkaian penyelenggaraan Pemasyarakatan.
Kunjungan Kusnali ke Lapas Kelas IIB Mojokerto sekaligus mempertegas arah pengawasan Pemasyarakatan di Jawa Timur yang menempatkan keamanan dan pelayanan sebagai dua hal yang harus berjalan beriringan dengan pembinaan.
Keamanan harus kuat, pelayanan harus maksimal, sementara pembinaan harus memberikan manfaat nyata bagi warga binaan.
Dengan monitoring dan pengawasan yang dilakukan secara berkelanjutan, Lapas Kelas IIB Mojokerto diharapkan semakin mampu menciptakan lingkungan Pemasyarakatan yang aman, tertib, bersih dan kondusif sekaligus menghadirkan pelayanan yang profesional, transparan serta berorientasi pada pemenuhan hak warga binaan.
Pada akhirnya, penguatan keamanan, integritas petugas dan optimalisasi pembinaan menjadi fondasi penting untuk mewujudkan Pemasyarakatan yang tidak hanya tertib selama warga binaan menjalani masa pidana, tetapi juga mampu mempersiapkan mereka untuk kembali dan berkontribusi secara positif di tengah masyarakat (Dd).






