JAWA BARAT, Jumat (7 Agustus 2026) –LAWKRITIS ID Keseriusan Indonesia dalam memburu prestasi terbaik pada Asian Games Aichi–Nagoya 2026 terus diperlihatkan melalui penguatan program pemusatan latihan nasional (Pelatnas) yang mengedepankan pendekatan ilmiah, pemanfaatan potensi alam, serta peningkatan kualitas pembinaan atlet secara berkelanjutan. Untuk memastikan seluruh program berjalan sesuai target, Chief de Mission (CdM) Kontingen Indonesia Asian Games 2026, Todotua Pasaribu, melakukan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi pelatnas di Provinsi Jawa Barat yang menjadi pusat persiapan beberapa cabang olahraga unggulan.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari komitmen manajemen kontingen Indonesia dalam memastikan bahwa setiap atlet memperoleh dukungan maksimal, baik dari sisi fasilitas, metode latihan, pendampingan pelatih, maupun lingkungan latihan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing cabang olahraga. Peninjauan ini juga menjadi ajang evaluasi terhadap perkembangan atlet menjelang pesta olahraga terbesar di Asia yang akan berlangsung di Aichi dan Nagoya, Jepang.
Dalam agenda tersebut, Todotua Pasaribu mengunjungi pelatnas cabang olahraga rowing, atletik nomor lari jarak jauh, serta kano dan kayak, yang selama ini diproyeksikan menjadi salah satu kekuatan Indonesia dalam perburuan medali. Pemilihan lokasi latihan dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan karakteristik geografis yang mampu memberikan manfaat optimal terhadap peningkatan performa atlet.
Salah satu lokasi yang mendapat perhatian khusus adalah Pangalengan, Kabupaten Bandung, kawasan dataran tinggi yang berada pada ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini dimanfaatkan sebagai pusat latihan bagi atlet rowing dan atletik lari jarak jauh melalui metode High Altitude Training, sebuah pendekatan latihan yang telah diterapkan secara luas oleh negara-negara dengan tradisi olahraga prestasi.
Latihan di dataran tinggi memberikan keuntungan fisiologis karena kadar oksigen yang lebih rendah memacu tubuh beradaptasi dengan meningkatkan efisiensi sistem pernapasan dan sirkulasi darah. Adaptasi tersebut diyakini mampu meningkatkan kapasitas paru-paru, daya tahan kardiovaskular, efisiensi penggunaan oksigen, serta ketahanan fisik atlet ketika kembali bertanding di dataran rendah. Dengan pendekatan berbasis sport science tersebut, diharapkan para atlet mampu tampil lebih kompetitif saat menghadapi lawan-lawan terbaik Asia.
Selain meninjau Pangalengan, CdM juga mengunjungi Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, yang menjadi lokasi pemusatan latihan atlet kano dan kayak. Waduk terbesar di Indonesia tersebut menyediakan lintasan air yang luas dengan karakter angin dan gelombang alami yang mendekati kondisi perlombaan internasional, sehingga menjadi tempat ideal untuk mengasah kemampuan teknis dan mental para atlet.
Melalui latihan di Waduk Jatiluhur, atlet tidak hanya meningkatkan kecepatan dan kekuatan mendayung, tetapi juga mengembangkan kemampuan menjaga keseimbangan perahu, membaca arah angin, mengendalikan ritme kayuhan, serta beradaptasi dengan perubahan kondisi lintasan yang kerap menjadi faktor penentu dalam kompetisi tingkat dunia.
Dalam dialog bersama atlet dan tim pelatih, Todotua Pasaribu memberikan motivasi agar seluruh anggota pelatnas tetap menjaga disiplin, fokus, dan semangat juang selama menjalani program latihan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan di Asian Games merupakan hasil dari proses panjang yang dibangun melalui latihan yang konsisten, kerja keras, pengorbanan, dan komitmen tinggi dari seluruh elemen tim.
Menurutnya, setiap sesi latihan memiliki nilai strategis dalam membentuk kesiapan fisik, teknik, mental, dan karakter atlet. Karena itu, setiap tetes keringat yang tercurah selama pemusatan latihan merupakan investasi berharga demi mengibarkan Merah Putih di podium kehormatan Asian Games.
Peninjauan tersebut juga dimanfaatkan untuk mengevaluasi kesiapan sarana dan prasarana latihan, kondisi atlet, efektivitas program pembinaan, serta koordinasi antara pelatih, tenaga sport science, tim medis, dan manajemen kontingen. Evaluasi menyeluruh ini diharapkan mampu menghasilkan penyempurnaan program latihan sehingga seluruh atlet dapat mencapai performa terbaik saat memasuki masa kompetisi.
Semangat yang diperlihatkan para atlet selama menjalani pelatnas mendapat apresiasi dari Todotua Pasaribu. Ia optimistis bahwa dengan dukungan pemerintah, induk organisasi cabang olahraga, tim pelatih, tenaga pendukung, serta doa seluruh masyarakat Indonesia, Kontingen Merah Putih memiliki peluang besar untuk mencatatkan prestasi membanggakan di Asian Games Aichi–Nagoya 2026.
Bagi Kontingen Indonesia, pemusatan latihan nasional bukan sekadar agenda rutin menjelang pertandingan, melainkan proses membentuk karakter juara yang mengedepankan disiplin, daya juang, sportivitas, dan semangat pantang menyerah. Nilai-nilai tersebut diyakini menjadi fondasi penting dalam menghadapi persaingan ketat di tingkat Asia sekaligus membawa nama Indonesia semakin diperhitungkan di kancah olahraga internasional.
“Keringat yang tercurah dalam setiap sesi latihan hari ini bukan sekadar hasil kerja keras, melainkan investasi menuju prestasi dan kebanggaan bangsa. Dengan persiapan yang matang, strategi yang tepat, serta tekad yang tidak pernah padam, Kontingen Merah Putih optimistis mampu mengukir sejarah baru dan mempersembahkan medali terbaik bagi Indonesia pada Asian Games Aichi–Nagoya 2026 (Dd).






